Main Raja-Rajaan

June 06, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Selama ini ketika mendengar istilah 'kerajaan' yang terbayang di pikiran saya adalah tua, kuno, budaya, kraton, dan kirab. Itu adalah gambaran-gambaran yang terbentuk sebab tinggal berdekatan dengan Kraton Jogja. Dua kata pertama, tua dan kuno, tidaklah bermaksud menjelekkan tapi buat saya kraton sudah berada di ruang yang berbeda dengan kehidupan sebenarnya yang modern, cepat, dan minimalis.

Vibe kerajaan yang damai, mendayu-dayu, teduh, pelan, dan penuh simbol rasanya sudah berjarak dengan realita. Walaupun Kraton Jogja berterima dengan baik di masyarakat dan bahkan rajanya menjabat posisi gubernur di pemerintahan, orang-orang menempatkan kraton sebagai produk budaya saja. Kebanggaan iya, turisme tentu, tapi saya berpikir nowhere in the modern world should monarchy remains relevant, and that's oke.

Maksudnya oke saja kerajaan masih eksis dalam dimensi budaya tapi untuk memimpin masyarakat modern rasanya sistem monarki sudah usang. Mungkin sudah betul sebuah negara dipimpin presiden saja seperti Indonesia, tidak perlu ada raja. Buat apa masih 'main raja-rajaan' seperti banyak negara di Eropa.

Tapi melihat bagaimana Indonesia diurus akhir-akhir ini dan membandingkannya dengan peran serta posisi kerajaan Belanda di kehidupan masyarakat, saya memikirkan ulang hipotesis itu, jangan-jangan posisi presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan adalah ide yang buruk dan mungkinkah Indonesia akan lebih stabil jika juga punya raja di level negara? 

Menjadi negara yang stabil saja sudah cukup, tidak harus menjadi super prosper atau super power. Negara-negara barat bisa punya PDB tinggi dan maju secara ekonomi karena mereka punya headstart menjelajahi bumi dan mengeruk keuntungan dari negara-negara lain, bukan semata-mata karena mereka lebih pinter. Jadi tidak adil membandingkan dengan angka-angka dan harga-harga. Airbus A380 ya begitu itu, Cessna 172 ya begitu itu, ukuran nggak masalah yang penting terbangnya stabil.

Seberapa monarki sih Belanda? Kerajaan Belanda masih aktif sampai sekarang dan saat ini yang bertahta adalah His Majesty King Willem-Alexander. Beliau adalah buyut dari Ratu Wilhelmina yang bertahta di paruh pertama abad 20 ketika masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga namanya sering ada di buku sejarah.

PSSI-nya Belanda KNVB secara harfiah adalah Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (Asosiasi Sepakbola Kerajaan Belanda). Sementara KLM adalah singkatan dari Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (Maskapai Penerbangan Kerajaan). Warna oranye yang identik dengan Belanda sampai sekarang berasal dari royal family. Ulang tahun raja pada 27 April (Koningsdag) diperingati sebagai hari libur nasional dan mungkin adalah hari libur dengan peringatan paling meriah di Belanda. Bicara soal penghormatan pada raja, orang Belanda tidak kalah dengan orang Jawa.

Itu tadi dari sudut budaya, bagaimana dengan pemerintahan? Dua poin ini tertuang dalam konstitusi:

1. The government consists of the King and the ministers.
2. The King is inviolable; the ministers are responsible.

Raja dan para menteri (yang dipimpin perdana menteri) bersama-sama adalah yang disebut sebagai pemerintah. Kebijakan-kebijakan dirumuskan bersama dengan menteri-menteri sebagai eksekutor dan raja bisa ikut menyetujui proposal yang diajukan. Tapi meski posisi raja tidak bisa diganggu gugat, raja tidak punya jangkauan sampai level praktis. Simpelnya, raja adalah kepala negara sementara perdana menteri adalah kepala pemerintahan.

Apa keuntungan di balik pemisahan peran itu? Kepala pemerintahannya jadi tidak berlagak selayaknya seorang raja. Perdana menteri adalah pekerja, dia dipilih dan digaji untuk menjalankan perannya sebagai pegawai negeri. Dia tidak butuh panggung, tidak butuh wajahnya dikenal, tidak perlu sorak sorai, dan walaupun punya partai pengusung dan warga pemilih, dia tidak berharap 'disembah'.

Urusan penghormatan, tahta, dan pengkultusan itu domainnya raja, tapi di sisi lain raja:
(1) Tidak khawatir soal mempertahankan kekuasaan karena tahta akan diteruskan keturunannya.
(2) Tidak pegang APBN sehingga tidak menggunakan uang rakyat untuk kepentingan dirinya.
Dua hal itu (suksesi dan anggaran) adalah exactly yang jadi sumber masalah jika kepala negara dan kepala pemerintahan jadi satu, presiden bisa menghamburkan uang rakyat bukan untuk kebijakan produktif tapi untuk program populis demi pemilu berikutnya.

Konsep kerajaan juga mencegah munculnya raja-raja kecil di daerah dan di sektor tertentu. Lha kalau perdana menterinya saja cuma pegawai, mana mungkin pejabat-pejabat di daerah mau sok-sok-an seolah raja. Bidang populer seperti sepakbola juga tidak bisa dikooptasi segelintir orang karena sudah dipagari dengan Asosiasi Sepakbola "Kerajaan Belanda", milik kerajaan lho ini, jangan macam-macam. 

Menurut Claude, ada 43 negara di dunia masih punya monarki aktif. Jadi sebenarnya jumlah raja yang masih bertahta tidak langka-langka amat. Tentu tidak semua dari negara itu juga stabil dan progressing. Tapi saya cuma mau venting bahwa daripada punya presiden yang macak jadi raja, piye nek sekalian Indonesia jadi kerajaan aja?

Chandra

 

Idul Kurban

May 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Untuk pertama kalinya kemarin saya dan istri melaksanan salat ied bukan di lapangan, bukan di masjid, tapi di halaman rumah. Bahkan saat covid dulu tidak ada momen kami salat di rumah, antara ke masjid/lapangan atau nggak salat jamaah. 

Kami salat di Nijmegen, di rumah salah satu warga orang Indonesia. Beliau punya halaman belakang yang cukup luas karena kebetulan rumahnya di hoek. Halamannya besar sehingga bisa didirikan tenda dan muat dipakai untuk salat mungkin sekitar 50 orang. Ini adalah opsi tempat salat ied jamaah Indonesia terdekat dari tempat kami tinggal.


Walaupun tampak sederhana, setingan seperti ini justru hangat dan akrab. Setelah takbiran, salat, lalu khutbah seperti biasa, ada acara ramah tamah sambil makan-makan yang baru bubar menjelang siang. Regulasi yang tidak mengijinkan penyembelihan hewan di tempat masing-masing membuat tidak ada yang buru-buru berkegiatan. Bapak-bapak ngobrol cukup panjang sampai terjadi janjian untuk main padel hari minggu nanti.

Acara ini diselenggarakan oleh Kemuni alias Keluarga Muslim Nijmegen. Komunitas ini punya dua demografi utama yaitu student di Radboud University dan bapak ibu mukimin yang sudah lama di Belanda. Biasanya kalau di suatu komunitas banyak ibu-ibu mukiminnya, hampir bisa dipastikan ketika ada acara makanannya enak-enak haha.



Makanan itu satu hal, tapi yang paling penting buat saya adalah momen kumpul-kumpulnya. Salat di masjid Maroko atau Turki mungkin lebih nyaman, tapi kita tetap merasa sebagai tamu. Beda dengan salat bersama orang-orang Indonesia yang walaupun sederhana tapi berasa di rumah. Saya bersyukur ke sini dalam kondisi di banyak kota-kota besar sudah ada komunitas muslim Indonesia yang berkembang yang welcome.

Idul Adha tidak memungkinkan dirayakan secara maksimal di sini karena setelah salat tidak bisa melihat penyembelihan dan pengurusan daging kurban. Penyebelihan hanya boleh dilakukan di rumah pemotongan hewan. Walaupun RPH halal sudah cukup banyak, kebanyakan orang memilih untuk menitip saja ke masjid atau badan amil zakat baik di Belanda atau Indonesia.

Ketika hari kamisnya masuk kerja, saya lewat sebuah tempat pemotongan hewan halal. Di sana aktivitasnya memang lebih sibuk dari biasanya sampai dibuat tenda di belakangnya, banyak orang bekerja, dan bau hewan lebih tercium daripada biasanya. Ini adalah momen terdekat saya dengan penyembelihan hewan kurban di Belanda.

Selamat Hari Raya Idul Adha! Fijne Offerfeest!

Chandra



Koperasi

May 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya menunggu seperti apa jadinya program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)-nya Prabowo nanti. Jujur dari berita yang sekarang-sekarang ini muncul aroma bakal banyak gagalnya sudah kuat sekali. 

MBG bisa berjalan karena gratis dan sekolah-sekolah bisa dipaksa untuk menerima. Sekolah, guru, dan siswa dalam hal ini hanya sebagai obyek. Tapi untuk KDMP masyarakat adalah subyeknya, mereka yang (berhak) memutuskan mau beli atau tidak. Kalau orang tidak mau atau tidak bisa belanja kesana (karena tempatnya jauh, barang nggak lengkap, pelayanan kurang, dll) lalu pengurus mau apa?

Di sisi lain pemerintah memaksakan diri sesegera mungkin membangun ribuan bangunan koperasi dengan berbagai ukuran. Saya yakin ini dilakukan secara koboi tanpa studi yang cukup. Padahal pasarnya segitu-segitu aja, apalagi ketika harga-harga naik orang akan cenderung menahan spending. 

Selama ini juga sudah ada kesetimbangan antara supply dan demand, ketika jumlah penduduk di suatu wilayah naik otomatis akan muncul swalayan dan warung-warung baru, begitu juga sebaliknya. Tapi kini tiba-tiba bangunan KDMP muncul dimana-mana tanpa tahu yang akan ngelarisi siapa. KDMP nggak ada organik-organiknya sama sekali.

Bangunan KDMP banyak yang bagus tapi suasananya tampak menyedihkan. Di daerah, memindahkan pasar ke lokasi baru saja beresiko gagal karena secara sosial dan teknis belum tentu cocok. Orang yang pernah menginjakkan kaki di pasar pasti tahu pasar itu ada soul-nya, bukan hanya perkara bangunan.

Ini belum bicara soal hal-hal teknis: penataan barang yang tanpa perencanaan, strategi pricing dan diskon tanpa data, relasi dengan brand/supplier yang dimulai dari nol, lokasi yang jauh dari pemukiman, manajemen pegawai yang entah seperti apa, dan lain sebagainya. Indomaret dan Alfamart bisa besar karena ilmu dan iterasi bertahun-tahun, bukan modal fantasi pendirinya.

Not that I'm a fan of MBG, tapi dapur SPPG bisa jalan karena at least secara konsep (bukan pelaksanaan) nyaris semua unsurnya in-line: pemerintah terjalankan 'misinya', pemilik dapur untung besar, pegawai dapur bergaji layak, suplier dan produsen (petani, peternak) punya pembeli, anak-anak dapat makanan gratis, hanya guru saja yang terjepit di antara kepentingan-kepentingan itu. Tapi balik lagi, KDMP itu jualan dan mereka butuh pembeli yang memutuskan untuk mau belanja di mereka. Pembeli bagaimanapun akan menggunakan motif ekonomi: kualitas tertentu untuk harga termurah atau harga tertentu untuk kualitas terbaik. Apakah KDMP bisa memenuhi itu?

Mungkin KDMP akan bisa laku jika tidak ada saingan, dalam artian pedagang mulai dari warung kelontong kecil sampai swalayan besar harus 'ditangani'. Seminimal-minimalnya KDMP harus bisa menjual barang jauh lebih murah dari yang lain, yang mana pasti nggak masuk secara itung-itungan bisnis. Fakta bahwa manajer KDMP digaji dari APBN sudah menunjukkan bahwa koperasi ini nggak self sufficient. Skenario terburuknya adalah warung dan swalayan dipaksa tutup dan pegawai di-lay-off yang mana sudah kejadian. Pada akhirnya rakyat yang jadi korban.

Kita tahu lah untuk apa dan siapa program ini ada, tapi kita bisa apa? Konsep koperasi yang mestinya secara organik tumbuh dari dalam, dari anggota untuk anggota, dan buahnya adalah SHU (sisa hasil usaha), di-bypass demi kepentingan segelintir orang. Pokoknya top down, pokoknya komando, pokoknya senegara manut. 


Chandra



Indonesia for Newcomers

May 17, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
A Turkish friend asked me about places to visit in Indonesia as they are planning to go in July. They specifically ask for places that are not too touristy. So on my spare time I wrote this for them and I think it's also a good idea to repost it here. 

Mind you that this is a recommendation for foreigners that will come to Indonesia for the first time, not for Jakartans that plan to visit Jogja for lebaran holiday. So this will be more high level and mainstream like I will list Borobudur and Prambanan in which you might have visited some time during highschool. I would not recommend Wediombo for too far or Mangut Lele Mbah Marto for being too spicy.

1. (Some places in) BALI
Places like Kuta are very touristy, but there are still some calmer and more peaceful places: Ubud, Panglipuran Village, plus this good reddit post: reddit

2. LOMBOK (+GILI) & KOMODO
Both are island-ic area situated close to Bali, they have beautiful beaches with a lot of activities and more relax than Bali. Komodo Island is special for its Komodo dragon (big lizard). Tourist-infra is ready and local people are used to foreigners. Place to visit: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Komodo Island.

3. JAKARTA
Capital city with malls, shopping centers, tall buildings, city lights, etc you can imagine from a big city in Asia. Most tourist landed or go via Jakarta so many of them will spend some days here. This is easy place for tourist, quite many people speak English, you have everything just around the corner. Place to visit: Monumen Nasional (Monas); Kota Tua (Old City) - Dutch buildings; city walking; Malls: Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall 1-2-3, Senayan City, Plaza Senayan.


3. YOGYAKARTA (YOGYA/JOGJA)
The most cultural city in Indonesia, there is still literary an active kingdom here, there are 2 big temples Borobudur and Prambanan + many smaller ones. lt's combination of modern-traditional. City center is walkable for a city in Asia. Good food. Place to visit: Borobudur Temple, Prambanan Temple, Candi Sewu, Yogyakarta Royal Palace, Tamansari Water Castle, Malioboro Street, Vredeburg Fort, Batik (traditional clothing) shopping, Sate Ratu (internationally famous food), Tempo Gelato (ice cream shop)


4. EAST JAVA
There are serious nature here like big volcanoes, crater, and waterfalls. Places to visit are Bromo Tengger Semeru National Park, ljen Crater (blue fires), Tumpak Sewu Waterfall, Kajoetangan Heritage Village includes Cokelat Mojopahit. If you enjoy nature these areas are good to visit. There is also big city (2nd after Jakarta) here called Surabaya with big malls, etc.

5. BANDUNG
Temperature here is more chill and not so hot compared to other cities. The location is close to Jakarta and easily reachable by train (or high speed train). City center has many old Dutch style building. Place to visit: Kawah Putih (white crater), Tangkuban Perahu volcano, tea plantation, Ciater Hot Springs, Malabar Radio site (Dutch 1920s intercontinental radio station). Hotel to stay: Savoy Homann

6. RAJA AMPAT
Located in eastern Indonesia and very popular with beautiful sceneries. Many pics available on the internet to see. This place is quite far tho and long transport to reach (flying + local boat). Worth it if you are planning to stay at least 1 week.

7. PADANG
A city located in Sumatra island, known for food, culture, and good nature in the surrounding areas. Unique tourist experience expected.

Some other notes:
- Transport
Beside Jakarta, public transport is practically non existent. But to go around you can order online taxi via Gojek and Grab app (similar to Uber), they provide food deliveries too. Inter-city you can rent a car or between cities in Java you can use train which is I think the best option, buy ticket online via apps (Traveloka or KAI Access), English friendly, choose executive class for max comfort.

- Food
Tasty and spicy, for tourist please consider food safety and get food from clean places, some streetfoods are oke. McD, KFC, and similar are available. Coffee shops (real coffee, not Dutch style) are everywhere and pretty good scene. Most foods are halal dan pork free.

- Hotel
Book via Booking.com, Agoda, or Traveloka. The rest is as usual.

- Payment
QRIS is very popular option almost everywhere but you need at least 1 app installed (can be Gojek or Grab that you use for transport), credit/debit card usable at restaurant or hotel, the rest cash is still king.

Thanks,
Chandra


Review Buku: Time After Time

May 10, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya adalah orang yang memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Kalau sudah suka buku dari penulis A, saya akan cari dan baca buku lain yang dia terbitkan. Kali ini saya sedang menamatkan bukunya Chris Atkins, sebelumnya saya sudah baca A Bit of A Stretch, sekarang saya baca yang terbaru berjudul Time After Time.



Chris Atkins adalah British movie director, jurnalis, dan penulis. Dia sempat tersandung kasus pajak yang membuatnya divonis bersalah dan dipenjara selama beberapa tahun. Buku A Bit of A Stretch menceritakan kisah-kisah yang dipotretnya selama masa hidupnya di penjara. Setelah bebas dia menulis Time After Time ini berdasarkan investigasinya kenapa banyak kriminal yang begitu sulit keluar dari kasus dan masuk penjara berulang kali.

Chris Atkins adalah well educated-white-white collar criminal, ketika di penjara dia mendapat pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik daripada mayoritas narapidana karena perannya membantu beberapa urusan di dalam. Kemudian ketika keluar dia sudah punya karir yang terbangun dan keluarga serta sirkel yang suportif. Setelah bebas ia melanjutkan karirnya, menulis buku best seller, jadi pembicara dimana-mana, dan stay away from crime.

Tapi tidak semua seberuntung itu, banyak narapidana yang punya keluarga yang tidak fungsional, tinggal di kawasan Bronx, berasal dari status sosial lebih rendah, punya masalah mental health yang tidak ditangani, dan belum sembuh dari adiksi. Golongan kriminal yang seperti ini sangat rentan untuk melakukan reoffending. Inilah yang ditulis Chris Atkins dalam bukunya Time After Time, dia mewawancarai banyak narapidana yang melakukan reoffending termasuk diantaranya beberapa yang dia temui ketika masih di dalam penjara.

Setiap bab dalam buku ini membahas satu kasus atau person. Totalnya ada 14 dan commonality di dalamnya adalah bahwa banyak hal yang masih salah dengan penegakan hukum dan sistem penjara di Inggris. Dia menemukan bahwa program-program pemasyarakatan yang ada di sana alih-alih memperbaiki hidup orang justru memperbesar kemungkinan orang melakukan tindak kriminal berulang.

Kursus-kursus yang ada bukannya memberikan keterampilan untuk bekerja justru jadi ajang berjejaring kriminal yang belum reformed. Sistem parole dan probation yang tidak akurat memungkinkan high risk offender kembali ke masyarakat dan melakukan kejahatan yang lebih besar. Orang yang sudah mau hidup lurus justru ditempatkan di kawasan rawan sehingga terlibat altercation dan masuk penjara lagi. Uang saku ketika keluar penjara tidak naik sejak lama sekali hingga kini tidak cukup untuk satu malam airbnb. Tidak ketinggalan tentu isu rasisme dan cap kriminal yang terus menempel bahkan setelah belasan tahun hidup bersih dan lurus melengkapi lingkaran setan yang menjerumuskan orang ke jurang reoffending. Itu adalah beberapa temuan yang dia tuliskan dan masing-masingnya dibahas secara mendalam.

"This is caused by a criminal justice system that traps offenders into an endless cycle of crime and insidiously sucks them back to prison rathen than giving them the tools to escape it."

Penulisan jenaka khas Chris Atkins masih berlanjut di buku ini. Kritik yang sebenarnya keras terhadap pemerintah, justice system, dan penjara dikemas dengan rapi dan enak dibaca. Melalui buku ini Chris juga menjadi penyambung lidah orang-orang yang tidak punya jalur untuk mengutarakan casenya di luar persidangan. Saking sensitifnya beberapa bab dia harus menyensor sebagian nama dan detail. Dua buku yang ditulis Chris sangat bisa jadi buku yang impactful.

Bedanya Time After Time dengan A Bit of A Stretch adalah pada buku pertamnya penulis adalah pelaku langsung, dia ada di penjara dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk buku kedua ini dia mendasarkan tulisannya pada interview, witness statement, dokumen persidangan, dokumen lain, phone calls, dan semacamnya di mana ia tetap adalah orang ketiga. Ini membuat ada sedikit jarak antara dia dan yang ditulisnya, hal yang membuat buku ini sedikit di bawah A Bit of A Stretch sebagai sebuah memoir. Hal lainnya, entah kenapa menurut saya desain sampulnya kurang, bagusan buku pertamanya.

Nevertheless, buku ini sangat enak dibaca, di-backing data dan fakta yang cukup, serta didasari riset yang panjang (5 tahun+). Penulisnya adalah jurnalis profesional yang punya ID pers jadi dia bisa menjangkau informasi yang tidak diketahui masyarakat umum. Lebih dari itu dia adalah penulis yang capable. Dedikasinya untuk mendorong perbaikan justice system di Inggris sebagai orang yang pernah mengalami langsung problemnya adalah sesuatu yang juga patut diapresiasi.

"It's widely accepted that the only way to break this cycle is a mix of carrot and stick, but in recent times we've removed the carrot and weaponised the stick"


Time After Time: Why Criminals Can't Quit Crime.

Walaupun buku ini tentang kriminal, tapi Chris menutupnya dengan Epilog yang manis di mana ia fast forward menemui beberapa respondernya setelah bebas dan menemukan hidup barunya.





Chandra

Blog

April 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Semalam saya sulit tidur karena sudah sempat terlelap sebentar setelah maghrib. Ini bukan hal yang sehat memang, tapi jadwal salat yang mulai sedikit tricky kadang memerlukan sedikit adaptasi. Sekarang di sini maghribnya hampir jam 9 dan isya-nya lewat jam 11 malam. Selepas isya tengah malam saya masih sangat melek dan daripada menyalurkan energi untuk hal yang mungkin akan saya sesali besok pagi (sempat kepikiran main FM dan masak Mie Sedaap Spacy Laksa), saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi memperbaiki domain blog ini.

Ternyata saya kurang puas menggunakan domain generik blogspot karena nama yang idealnya saya inginkan (chandra.blogspot.com atau chandranurohman.blogspot.com) sudah dipakai orang. Saya jadi harus berkreasi dan memilih opsi lain yang kurang catchy. Selain itu tampaknya menggunakan domain generik hurts my traffic dan posisi di google search. Walaupun blog ini tidak dimonetize dan saya bukan orang yang mengejar engagement, tapi rasanya senang kalau ada orang yang tidak saya kenal menemukan dan membuka blog ini secara organik.

Karena itu saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Saya tidak berusaha merevive chandranurohamn.id karena tidak worth the effort untuk ngoprek lagi. Saya mau start fresh, kalau bisa dengan starting cost kecil jadi andai gagal tidak rugi-rugi banget, dan providernya yang bermain di pasar global. Kalau dulu saya langganan Qwords sesimpel karena outletnya di dekat kosan, sekarang saya baca-baca rekomendasi orang di internet dan mendaftarlah saya jadi customer Namecheap (www.namecheap.com).

Alhamdulillah langsung ada opsi di sana untuk chandranurohman.blog dengan harga yang sangat murah yaitu 2 euro-an (3 dollar) untuk satu tahun pertama. Beli aja dulu pikir saya, harganya sama dengan sekaleng minuman soda. Saya tidak aktifkan auto-renewal sehingga kalau setup-nya rumit mungkin akan saya tinggal begitu saja. Kalau nanti diperpanjang tahun kedua bayarnya jadi sekitar 20 euro, yang mana juga masih masuk akal karena mirip-mirip dengan harga di Indonesia jika dirupiahkan. 




Surprisingly mereka punya knowledge base yang up-to-date, menjelaskan dengan sederhana apa yang harus dilakukan untuk mengarahkan custom domain yang mereka provide dengan blogger yang sudah ada. Lebih-lebih, mereka juga punya panduan dalam bentuk video yang diupload di YouTube. Setelah 20 menitan mengatur konfigurasi di control panel-nya Namecheap, saya beranjak tidur sambil menunggu propagai yang katanya untuk domain baru butuh 30 menit sampai 2 jam. Pagi ini saya lanjutkan setup di sisi blogger-nya, tunggu 10 menit, and just like that we're live!

Sweet, domain clear, SSL done, redirect works, termasuk kalau diakses dari .blogspot otomatis diarahkan ke domain yang baru. 


Let's see how this goes. Semoga tidak ada gangguan teknis yang tidak perlu dan yang lebih penting semoga saya tidak bosan menulis. I'm not really audio-visual person jadi di era gempuran video pendek menulis adalah cara paling nyaman untuk saya membuat konten atau menyampaikan pikiran, dari belakang meja.

Chandra

Tim-Tim Barclays

April 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
What if Spurs gets relegated?

Saya menulis ini di depan TV yang sedang menyiarkan pertandingan Tottenham lawan Brighton. Kalau Tottenham kalah lagi di pertandingan ini maka ancaman degradasi semakin dekat menjadi kenyataan. Walaupun secara matematis masih sangat bisa selamat, potensi turun kastanya besar karena kontender degradasi lain sedang membaik mainnya sementara Spurs gitu-gitu saja meskipun sudah dua kali ganti pelatih.

Liverpool memang having a bad season karena angin-anginan setelah menggelontorkan ratusan juga pounds. Tapi degradasi is in another level, tim sebesar Spurs akan sangat terpukul secara reputasi dan finansial kalau sampai terjadi. Absen dari kompetisi Eropa saja sudah membuat keuangan tersendat, apalagi turun divisi. Spurs juga belum lama menempati stadion barunya yang sangat megah. Bayangkan main di divisi Championship dengan stadion sebesar punya mereka, apa gak terkagum-kagum itu tim yang bertandang.


Kalau ditanya, saya sebagai penonton berharap Spurs tidak terdegradasi. As much as I enjoy Klopp's Liverpool era, Liga Inggris tahun 2000an tetap membekas buat saya. Saya pikir angkatan saya dan sebelumnya sependapat soal 'Barclays Era' sebagai salah satu masa nonton bola paling seru. Tentu saja Spurs termasuk di dalamnya dan potensi kehilangan satu Barclays team tidak membuat saya happy. Saking inginnya saya melihat klasemen liga Inggris berisi tim-tim yang ada di tahun 2000an, saya sering ngecek klasemen Championship untuk tahu siapa yang akan promosi musim depan.

Saya ingat pertama kali dibelikan sepatu bola oleh orang tua merknya Speed. Di bagian belakang kardusnya for some reason desainernya menaruh logo 20 tim Liga Inggris di jaman itu. Selain traditional Big 4 (yes waktu itu masih 4), ada tim-tim macam Bolton, Blackburn, Portsmouth, Middlesbrough, dan Birmingham. Lagi-lagi sebagai Barclays fan saya kangen melihat logo tim-tim itu di media publikasi Premier League. 


Things are not looking good already in Championship karena cuma Middlesbrough yang ada di 10 besar, itupun kemungkinan harus main play-off. Maka saya berharap yang terdegradasi jangan tim 'tradisional', Wolves dan Burnley sih oke tapi Spurs kalau bisa jangan. Kalau survive musim ini, saya cukup yakin Spurs minimal bisa bersaing di papan tengah musim depan.

Babak pertama selesai dengan skor 1-1, gol Pedro Porro dibalas Mitoma. Not looking good, kalau cuma imbang mereka akan tetap di zona merah dengan memainkan satu pertandingan lebih banyak. Keren Liga Inggris musim ini, selain perebutan juara yang belum final, satu spot degradasi juga masih punya banyak kemungkinan. Setelah pertangan ini akan ada MU lawan Chelsea, besok Merseyside derby Liverpool lawan Everton lalu ditutup City ketemu Arsenal. What a weekend.

Chandra 

Bensin

April 05, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kalau ada efek perang yang sudah terasa di Belanda adalah naiknya harga bahan bakar minyak. Walaupun pemerintah memberikan subsidi BBM, tapi harga tidak dikunci sehingga kalau harga minyak dunia naik harga bensin di pom bensin juga langsung naik. Pada kondisi normal pun harga bisa berubah setiap harinya, sekarang dengan adanya eskalasi yang menyebabkan distribusi minyak dunia terhambat, harga bensin bukan lagi naik tapi ganti.

Belanda adalah salah satu negara dengan harga BBM paling tinggi di Eropa barat. Tahun lalu bensin Euro RON 95 (yang adalah varian paling basic) dijual di kisaran 1,8 sampai 1,95 euro per liter. Harga ini berterima di masyarakat karena relatif stabil sepanjang tahun dan diimbangi infrastruktur jalan yang baik. Sekitar pergantian tahun ke 2026 harga mulai naik menyentuh 2 euro. 

Tidak lama berselang US dan Israel bikin gaduh dan tiba-tiba harganya melonjak jadi 2,25-2,4 euro per liter. Kalau belinya di rest area tol bisa lebih dari 2,5 malah. Jadi harga bensin sekarang sekitar 20-25% lebih mahal dari 6 bulan yang lalu. Dampak lebih besar dirasakan pengguna diesel. Harga solar naiknya sampai 50% dari kisaran 1,6 ke 2,4-2,5. Solar yang tadinya lebih murah dari bensin kini berbalik jadi lebih mahal. Masyarakat umum juga merasakan harga-harga kebutuhan terkerek karena biaya distribusi dan logistik yang naik.

Kondisi ini bisa jadi belum yang puncak parahnya. Menurut JP Morgan, minyak yang sekarang kita pakai adalah kiriman dari sebelum eskalasi. Untuk diketahui bahwa kapal tanker yang berat itu hanya bisa jalan 10-15 knots alias sekitar 20 kilometer per jam, mirip-mirip dengan orang naik sepeda. Jadi stok sekarang adalah barang lama yang sudah lewat sebelum selat hormuz ditutup dan oil transport tercekik.


Masih menurut JP Morgan, eventually kiriman lama ini akan habis juga gelombangnya. Di US diperkirakan kiriman terakhir akan datang sekitar 15 April, Eropa 10 April, Australia 20 April, sementara Asia dan Afrika sudah lewat yaitu 1 April kemarin. Mungkin saja negara-negara punya channel lain atau cadangan minyak yang bisa dipakai, tapi hambatan distribusi ini pasti memunculkan shock wave. 

Menakjubkan kalau Indonesia benar-benar tidak menaikkan harga sampai krisis ini berakhir. Entah bagian mana lagi yang akan dipotong untuk nambal demi tidak melakukan kebijakan non-populis menaikkan harga pertalite. Statement yang sudah keluar adalah Pertamina yang akan membayar selisihnya. Tapi seberapa kuat BUMN menopang ini mengingat belum jelas kapan kondisi akan normal lagi.

Penyebab utama semua ini tentu Trump dan Netanyahu. Andaikata mereka diam-diam saja krisis ini tidak akan terjadi. Tapi nafsu Israel menjadi supernation dan mengungguli semua negara di Asia Barat memang biadab plus merugikan banyak pihak. The most hated country in the world and that's not even close.

Perang Amerika dan Iran ini asimetris, kalau gede-gedean badan jelas US menang, tapi Iran punya keuntungan strategis yaitu menguasai Selat Hormuz yang jadi jalur distribusi penting dunia. Ini ibaratnya David vs Goliath. America is a bully yang sekarang kelihatan mulai keringetan karena perang yang tadinya ditargetkan straight forward ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Popularitas Trump juga terus turun karena harga-harga naik, instabilitas, dan ketundukannya pada Israel. Bukan hal menguntungkan bagi dia dan partainya mengingat tahun ini akan ada pemilu sela.

Panjang kalau membicarakan politik perang ini, termasuk keikutsertaan Indonesia dalam BOP, piala dunia, dan lain sebagainya. Saya bukan ahli hubungan internasional jadi akan kembali ke harga bensin.


Di Belanda sendiri belum ada kebijakan khusus terkait energi misalnya peraturan WFA atau pemadaman bergilir. Kenaikan harga bensin dan bahan kebutuhan masih ditelan sebagai pengeluaran tambahan household. Pemerintah dan industri ada action sih in the background pasti, tapi di masyarakat masih terasa normal.

Prevalensi penggunaan energi terbarukan dan kendaraan listrik (termasuk angkutan barang dan orang) mungkin menjadi bantal yang melindungi dari krisis ini. Apalagi bulan-bulan ini ngunduri summer yang artinya hari sudah hangat jadi tidak perlu membakar energi untuk pemanas dan siang harinya makin panjang sehingga solar panel makin efektif. 

Saya bersepeda sore ini memotret beberapa pom bensin yang saya lewati. Semuanya menunjukkan harga Euro 95 di kisaran 2,3 euro-an.


Chandra

Peace, Love, and Gaul

March 29, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Salah satu 'buah' yang saya dapat dari Ramadhan kemarin adalah sebuah hadist yang disampakan Ustadz Deden di acara buka bersama Kajian Muslim Ede. Waktu itu beliau menjelaskan tentang pentingnya muamalah, hubungan baik antar sesama manusia. Salah satu yang disampaikan adalah beliau mengutip sebuah hadist yang buat saya hit close to home.

Rasulullah ï·º bersabda: “Jika seorang Muslim bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [HR: At-Tirmidzi 2507. Dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi]

Seumur hidup saya belum pernah mendengar hadist ini padahal menurut saya ini sangat kontekstual. Adanya internet dan perangkat digital, while bisa mendekatkan yang jauh, tapi juga terbukti bisa menjauhkan yang dekat. Ini diperparah dengan gejala sosial yang saya lihat terutama di kalangan orang-orang muda di mana ada kecenderungan they don't want to bother each other karena takut salah satu menyakiti yang lain. Kecuali memang sudah sangat dekat dan tahu satu sama lain.

Kesadaran orang soal personal space dan barrier kini semakin tinggi. Saya yang mengidentifikasi diri sebagai peralihan antara gen milenial dan gen Z saja merasakan ini, asumsi saya gen Z murni dan yang lebih muda mengalami gejala ini secara lebih kentara (maafkan kalau asumsi saya salah). Saya mikir beberapa kali sebelum mengontak orang yang tidak terlalu dekat karena ada pertanyaan: berkenan nggak ya? masih nyambung nggak ya? lebih gede urgensinya atau resikonya ya?

Saya berpikir salah satu masalahnya adalah anak muda sekarang terbiasa mengonsumsi hal yang 'perfectly baked'. Jadi ketika dalam interaksi dengan orang ada hal yang awkward, boring, atau missing langsung berasa sebagai sebuah kesalahan. Padahal andaikata interaksi tidak berlangsung atau berakhir 100% mulus pun tidak perlu dijadikan sesuatu yang mengganjal. Generasi baby boomers enteng saja bertamu atau menerima tamu tanpa berkabar, sementara anak muda ingin tampil sempurna di depan counterparts-nya sehingga kalau mau ketemu harus atas kesepakatan bersama.

Maka orang prefer untuk connect dengan orang yang dia yakin sefrekuensi saja. Grup-grup pertemanan jadi lebih kecil tapi lebih erat. Sebenarnya ini tidak buruk-buruk amat, quality over quantity, bisa jadi model yang sekarang sudah memberikan supporting system yang cukup. Hanya saja ini jadi kurang oke kalau sampai mengebiri kemampuan untuk berkomunikasi dan connect dengan orang baru karena dalam banyak hal masih diperlukan. Lalu people blame this on 'introvert'.

Tentu ada faktor luar juga seperti safety. Dulu saat telepon masih mahal dan bersih orang biasanya punya alasan valid untuk menelepon. Sekarang scam di mana-mana jadi ketika ada dering telepon masuk tanpa tahu konteksnya survival mode kicks in. Orang tua saya dan segenerasinya mudah saja menelepon atau mengangkat telepon rumah tanpa tahu siapa di ujung yang lain. Sementara generasi kita punya anxiety dengan nada dering.

Kembali ke hadist di atas. Hadist itu terasa menohok karena selain mengalami konteksnya langsung, kita jadi tahu bahwa bahkan dari dulu ternyata Rasulullah sudah mengetahui ini. Beliau sudah tahu bahwa berinteraksi dengan orang membawa konsekuensi potensi tersakiti, tapi jika kita bersabar itu lebih baik daripada yang tidak pernah bergaul karena tidak mau diganggu atau khawatir mengganggu orang lain.

Mengetahui ini terasa answering karena ternyata sudah dari dulu pergaulan punya resiko. Tapi olahraga juga ada resiko kesleo tapi melakukannya tetap lebih baik daripada tidak pernah olahraga. Makan juga punya resiko tersedak tapi tentu lebih baik daripada terus tidak makan. Karena kalau dipikir-pikir olahraga memang ngos-ngosan tapi kesudahannya badan nyaman. Makan kadang kepedesan tapi hasilnya perut kenyang. Bergaul pun lebih banyak yang menyenangkan, bahkan bisa menjadi jalan masuknya solusi dan rejeki.

Chandra


*Peace, Love, and Gaul adalah tagline terkenal acara Planet Remaja yang mengudara di TV di tahun 2000an
**Gambar hanya pemanis, ketika punya keyword 'gaul' entah kenapa bayangan yang muncul di kepala saya adalah Blok M, foto diambil tahun 2023






Eid Mubarak

March 22, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Apakah ada perayaan Idul Fitri di Belanda?
Ya, umat muslim tentu merayakannya setelah satu bulan berpuasa. Tapi secara negara idul fitri atau di sini disebut suikerfeest (kalau ditranslasi jadi 'festival gula') bukan hari libur nasional. Orang yang ingin merayakannya bisa menggunakan hak cuti masing-masing. Rata-rata orang Belanda tahu soal ramadhan dan suikerfeest karena diajarkan di sekolah-sekolah jadi mereka mengucapkan selamat, tapi perayaan ini tidak diformalkan secara aturan.

Idul Fitri kapan?
Di sini sepertinya semua komunitas muslim besar merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Indonesia salah satunya, termasuk di dalamnya PCI NU Belanda yang sudah merilis sejak sebelum ramadhan bahwa 1 syawal jatuh pada 20 Maret. Meski begitu setahu saya ada sebagian kecil muslim di Eropa yang berlebaran pada hari Sabtu-nya.

Apakah ada takbir keliling?
Takbiran dilakukan di dalam masjid masing-masing dan tidak ada takbir keliling di jalan-jalan. Tapi masjid di sini biasanya bukan hanya ruangan area salat saja tapi sebuah cultural centrum yang di dalamnya ada ruang kelas, kantin, sampai aula yang bisa dipakai untuk ramai-ramai merayakan takbiran. 

Salat Ied di mana?
Kami alhamdulillah salat di Masjid Indonesia Al-Hikmah di Den Haag. Salat ied di sana dimulai agak siang jam 09:00 jadi lumayan ada waktu untuk menuju ke sana walaupun untuk kami perjalanannya lebih dari 1 jam. Selain untuk merasakan suasana lebaran bersama banyak masyarakat dari Indonesia, kami juga ada rencana untuk datang ke open house KBRI dan sowan ke beberapa sesepuh.


Seperti apa salat Ied di Al-Hikmah?
Ramai sekali oleh orang-orang datang dari berbagai penjuru negeri. Walaupun di setiap kota ada masjid dan hampir di semua kota besar ada salat ied komunitas Indonesia tapi masjid Al-Hikmah tetap jadi epicentrum muslim Indonesia di Belanda. Kami sampai di masjid jam 8:10an dan sudah tidak dapat tempat di dalam. Bagusnya masjid dapat ijin untuk menggelar salat sampai ke halaman bahkan jalan, sebuah pemandangan yang menarik sekaligus asing di sini. Salat di halaman justru menyenangkan karena rasanya seperti salat di lapangan, kabar baiknya cuaca sedang cerah dan suhunya bersahabat.

Salatnya tentu sama, 2 rakaat dengan rakaat pertama 7x takbir dan rakaat kedua 5x takbir. Khotbah-nya dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Belanda. Selesai salat masjid membagikan bakso gratis yang antriannya sampai panjang sekali. Beberapa jamaah juga membawa dan membagikan kue dan makanan kecil pada siapapun yang mau. Sampai menjelang siang orang masih salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto-foto. Hangat sekali.



Apakah ada budaya saling mengunjungi saat lebaran?
Walaupun tidak semasif di Indonesia tapi budaya ujung tetap ada. Biasanya keluarga-keluarga yang open house akan mengabarkan untuk datang. Agendanya standar: salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto. Yang menarik karena kadang tamunya berbarengan dari sirkel yang berbeda, di satu ruang tamu bisa ada 3 bahasa sekaligus Indonesia, Belanda, dan Inggris. Kami sebagai new kids on the block alias termasuk generasi mukimin muda jadi yang keliling sowan dari satu rumah ke rumah lain seperti di Indonesia.


Suguhannya apa?
Somehow kue-kue lebaran seperti nastar, putri salju, lidah kucing, kastengel dan lain sebagainya sampai juga di meja-meja rumah Belanda. Ada yang bikin sendiri, ada yang memang jualan, dan ada yang bawa dari Indonesia. Selain itu ada coklat-coklatan yang memang mudah di dapat di sini. Favorit saya Ferrero Rocher alias Roka dalam kemasan premium..

Untuk sajian makannya, wah masyaAllah sekali. Rata-rata yang open house adalah keluarga yang sudah benar-benar mukim dan settle di sini jadi masak-masak besar bukan lagi hal yang rumit, termasuk sourcing bahan baku halal dan bumbu-bumbu spesifik untuk masak masakan nusantara. Jadi opor ada, rendang ada, bakso tetelan ada, gule tunjang ada, sampai seblak pun ada. Alhamdulillah wa syukurillah.




Rasa lebaran tahun ini?
Tentu lebaran tidak sama ketika berjauhan ribuan kilometer dari keluarga inti. Tapi kami berusaha the best we can do untuk tetap merayakan 'bersama' walaupun hanya via layar handphone. Sisanya kami mensyukuri apa yang ada di sini, termasuk teman-teman dan saudara baru yang membersamai dan pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

Kalau dibandingkan tahun lalu, Idul Fitri tahun ini terasa lebih 'lebaran'. Hari jumat, sabtu, sampai minggu alhamdulillah ada agenda yang dilakukan layaknya lebaran di tanah air. Sekarang minggu sore, kami baru pulang dan saya baru sempat menyelesaikan tulisan ini. Sekarang saya juga sudah sampai bosan makan santan.

Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Eid mubarak!

Chandra & keluarga